Liburan Ke Yogyakarta, Nginap Di Jalan Hingga Diusir Pengemis (1)


dsc_0347

Sore itu kami diantar menggunakan motor oleh pak Yuli ke jalan raya untuk mencari angkutan umum menuju stasiun Jombang. Agak susah memang mencari angkutan umum di Pare, Kediri. Sangat jarang terlihat angkutan umum yang berlalu-lalang disini. Untuk mendapatkan angkutan umum misalnya untuk menuju ke stasiun maka kita harus memesan terlebih dahulu via telpon.

Tak heran banyak masyarakat yang menyiapkan jasa ojek, baik menuju Pare maupun kearah sebaliknya. Harganya pun bukan main mahalnya. Untuk menuju stasiun Jombang atau Kediri kita harus merogoh kocek Rp 40 ribu. Lumayankan? Namun kami memilih naik angkot ke stasiun Jombang agar lebih murah.

Jarak jalan raya dari tempat kami tinggal cukup jauh. Kami cukup beruntung karena Pak Yuli yang merupakan penjaga kost tempat kami tinggal bersedia mengantarkan kami ke jalan raya untuk mencari angkutan umum menuju ke arah stasiun Jombang. Tak lama kami menunggu, sebuah mobil Elf berwarna merah pun berhenti setelah salah seorang dari kami melambaikan tangan minta berhenti.

Berdasarkan informasi dari Pak Yuli, harga angkutan umum menuju stasiun Jombang hanya Rp 7000 per orang. Tak heran jika kami memilih menggunakan angkutan umum karena cukup murah. Penumpang yang ada di hanya empat orang, kami bertiga dan seorang bapak yang duduk di depan. Sore itu mobil melaju begitu kencang. Sesekali mobil pelan saat berada di keramaian. Setelah itu, supir angkot kembali tancap gas. Tak berapa lama, kami kemudian sampai di sebuah lampu merah dekat stasiun Jombang.

“Turun disini ya. Nanti kalian tinggal menyebrang. Itu sudah stasiun Jombang,” ujar supir angkot. Kami bertiga langsung turun dan membayar uang angkot sesuai yang dengan informasi dari Pak Yuli. “Nanti kalau turun dari angkot langsung kasih Rp 7 ribu saja. Jangan tanya berapa ongkosnya, apalagi kalian orang baru disini,” kata pak Yuli.

Begitu turun, saya pun langsung menyerahkan uang yang sudah kami persiapkan sejak perjalanan menuju stasiun. “Ini kurang dek, ongkosnya Rp 10 ribu per orang,” kata supir angkot. Saya pun langsung memberikan uang angkotnya dan berjalan menuju ke arah stasiun. Tujuan perjalanan kali ini adalah kota gudek Yogyakarta.

Ada banyak bus dari arah surabaya yang melewati jalan ini. Kota Yogyakarta adalah tujuan akhir bus-bus yang melewati jalur ini. Tak hanya kami pertiga, ada banyak penumpang lain yang juga sedang berdiri menunggu bus disini, di depan stasiun Jombang. Sebelum mencegat bus, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu agar tidak kelaparan saat melakukan perjalanan ke Yogyakarta.

Sebungkus nasi ayam pun menjadi makanan pilihan. Usai menyantap nasi bungkus, kami pun membeli air mineral untuk bekal di jalan. Ini juga merupakan kesempatan untuk menanyakan bus menju ke Yogyakarta. “Disini banyak bus tujuan Yogya. Mas tinggal lihat aja tulisannya,” ujar ibu penjual nasi. Tak berapa lama, bus Mira tujuan Yogyakarta pun berhenti tepat di depan kami berdiri. Begitu naik, bus langsung jalan.

“Ibu penjual nasi tadi kok kayak manggil-manggil ya,” kata Jepri. Saya tidak memperhatikan lagi setelah masuk ke bus. Pikiran saya hanya tertuju pada kursi yang dekat jendela. “Astaga, pantas aja ibu tadi manggil-manggil rul. Air mineral yang kita beli tadi ketinggalan di warung ibu itu,” ujar Jepri. Namun, masalah air yang ketinggalan di warung itu pun berlalu begitu saja. Kami hanya fokus dan mencoba menikmai perjalanan.

Jujur, ini adalah perjalanan pertama saya mengunakan bus di Jawa. Ternyata cukup ramai namun tetap nyaman karena busnya ber AC. Banyak penjual yang menawarkan barang daganganya disini, terlebih saat bus berhenti di salah satu terminal. Saya dan kedua teman agak heran. Para penjual pun langsung membagikan barang jualanya ke setiap penumpang. Belakangan baru saya tahu kalau ternyata ini adalah cara mereka menjajakan barang dangangan mereka di bus.

Setelah membagikan barang jualannya ke setiap penumpang, nanti para penjual tersebut akan datang kembali mengambil barang tersebut. Jika para penumpang bersedia membeli, maka tinggal membayar sesuai harga yang tertera. Jika tidak, barangnya akan diambil kembali. Hal menarik lainya adalah hiburan saat di melakukan perjalanan menggunakan bus. Banyak musisi jalanan yang mencoba mencari keberuntungan disini untuk menghibur para penumpang bus.

dsc_0237

Lagu-lagunya pun beragam namun lagu dangdut dengan bahasa Jawa mendominasi. Yah, maklum ini tanah Jawa. Namun menarik dan cukup menghibur meskipun kami tidak mengerti arti dari bait lagu-lagu yang dinyanyikan. Maklum, kami bertiga bukan orang Jawa. Saya sendiri dari Sulawesi. Sementara kedua temanya saya dari Sumatra.

Tepat pukul 24.00 dini hari, kami akhirnya sampai di terminal bus terakhir. Welcom to Yogyakarta. Ternyata cukup dekat. Hanya melakukan perjalanan sekitar lima jam akhirnya kami sampai di kota Gudek ini. Sebenarnya ini diluar rencana. Kami melakukan perjalanan malam agar tidak lagi mencari penginapan. Begitu sampai di Jogja paginya bisa langsung jalan ke destinasi wisata yang dituju.

“Gimana nih rul, kita uda sampai di Yogya. Terus kita tidur dimana?,” ujar salah seorang teman yang agak panik begitu tahu kalau ternyata kami sudah sampai. Tak perfikir lama, saya pun mengajak kedua teman tersebut  menuju sebuah mesjid yang ada di dekat terminal. Mesjidnya cukup ramai. Banyak orang yang memilih untuk beristirahat disini. Tepat pukul 02.00 dini hari, kami pun memilih untuk tidur sembari mengumpulkan tenaga untuk melakukan perjalanan.

Rasanya baru memejamkan mata dan terlelap disudut kota ini. “Bangun…bangun….bangun…,” seseorang dengan baju dan kopiah putih langsung terlihat begitu membuka mata. Ternyata pria yang membangunkan saya dan semua orang yang tidur adalah pengurus mesjid ini. Ia sengaja membangunkan kami agar bisa sholat shubuh secara berjamaah. “Gila, kita uda kayak gembel aja dibangunin jam segeni,” ujar seorang  teman dengan nada protes. Saya hanya tertawa mendengar ucapanya. Akhirnya kami pun bergegas untuk mengambil air wudhu sebelum melakukan sholat shubuh berjamaah di mesjid. Usai sholat, kami duduk sejenak dan berunding untuk menuju destinasi wisata di kota ini.

Baca Juga:

Advertisements

Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s