Perjalanan Tak Terlupakan, Tiba di Ternate Langsung Disambut Hujan Abu Gamalama


dsc_0024

Pemandangan kota Ternate dari atas udara cukup indah. Pemandangan gunung, laut dan daratan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun saya tidak cukup puas menikmati pemandangan indah itu. Tak hanya posisi duduk saya yang berada di tengah. Saya kurang uas menikmati pemandangan tersebut karena awan tebal sempat beberapa  kali menghalangi pandangan saya waktu itu.

Belum lagi, cahaya mentari yang begitu menyilaukan pagi itu dan kru pesawat yang membawa saya dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju bandara Sultan Babullah Ternate memberikan instruksi untuk menutup jendela karena sebentar lagi pesawat akan mendarat.

Hari itu, Rabu 3 Agustus 2016, pesawat yang membawa saya mendarat sekitar pukul 07.00 pagi di bandara Sultan Babullah Ternate. Cuaca pun cukup bersahabat. Perjalanan saya dari Makassar hingga tiba di kota Ternate cukup lancar. Tak ada kendala selama perjalanan menuju ke kota ini. Saat tiba, saya pun langsung menuju ke ruang pengambilan bagasi bersama penumpang lainnya. Bandara Ternate tidak terlalu besar namun cukup bersih.

Setelah mengambil barang bagasi, saya pun menuju ke luar bandara untuk menunggu jemputan. Tak hanya sendiri, saya ditemani beberapa teman. Tak cukup lama kami menunggu, tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan menanyakan terkait asal kedatangan kami. Ternyata benar, dia adalah orang yang akan menjemput kami disini.

Semua barang bawaan kami pun dikumpulkan menjadi satu dan kami diinstruksikan untuk membawanya menuju mobil yang ada di perkiran depan bandara. Kami pun bergegas menuju mobil untuk menyimpan barang bawaan berupa tas dan ransel yang kami bawa sebelum diantar menuju penginapan. Tak berapa lama kemudian, abu putih mulai berjatuhan dari langit Ternate.

Awan mendung mulai menyelimuti kota itu. Rintik hujan pun mulai turun disertai dengan hujan abu. Kami pun langsung naik mobil yang akan mengantarkan kami menuju penginapan. Tak berapa lama setelah pesawat yang membawa kami ke Ternate tiba sebuah kabar bahwa bandara Sultan Babullah Ternate ditutup. “Untung kita sudah sampai. Sekarang bandara ditutup. Gunung Gamalama sedang erupsi. Ini beritanya di media online,” ujar seorang teman sambil memperlihatkan berita dari smartphonenya.

Hari itu, mendung menyelimuti kota Ternate. Sesekali hujan menguyur kota itu. Tak berapa lama, saya bersama teman lainya pun tiba di sebuah penginapan berupa mess. Saya cukup senang berada disini. Terlebih, ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di kota ini. Meski demikian, saya juga cukup khawatir dengan letusan gunung Gamalama. Saya mencoba tenang dan mengikuti perkembangan informasi terkait letusan gunung Gamalama diberbagai media online dan mencoba menikmati sisi lain yang disuguhkan kota ini.

Baca juga:

Advertisements

Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s