Tanpa Rencana, Ajakan ke Sinjai pun Menghapiri


Di tengah perjalanan, hujan pun turun. Tak begitu lebat. Namun sekujur tubuh basah akibat perjalanan panjang dan macet yang menghapiri di tengah perjalanan. Memutuskan berhenti untuk memakai jas hujan rasanya tak penting lagi. Sia-sia saja. Semuanya sudah terlambat.

20161007_181729

Hari itu saya mengujungi sebuah bengkel salah seorang teman di kawasan Sudiang Makassar. Bukan tanpa alasan. Tujuan kesana memang untuk memperbaiki motor. Sebenarnya saya sudah lama janjian untuk memperbaiki motor di bengkelnya. Namun kesibukan membuat rencana saya untuk mengunjungi bengkel tersebut batal. Hari itu, Sabtu 12 November 2016 saya menyempatkan diri untuk berkunjung dan memperbaiki motor di bengkel teman.

“Rul, besok saya dan Basir rencana mau jalan ke Sinjai. Mau ikutan ngak?,” kata Tanjung sembari mengotak-atik motor yang saya bawa dan mencari kerusakannya. “Sebenarnya rencana kesana mau pergi naik motor tapi karena cuacanya kayak gini jadi perginya nanti naik mobil. Tenang nanti saya pinjam mobilnya om ku,” lanjutnya.

Saya masih ragu. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut. Pikiran masih melayang-layang. Saya masih saja menyimbukkan diri di ruang tunggu bengkel sambil mengotak-atik laptop yang saya bawa. “Tenang aja rul, kita perginya cuma bertiga kok. Saya, kau dan Basir,” Tanjung mencoba meyakinkan saya. Sebenarnya saya mau sekali ikut. Apa lagi, ke Sinjai. Jujur saja saya belum pernah mengunjungi salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan itu.

Waktu mulai bergulir. Sore itu hujan menguyur kota Makassar. Motor belum juga selesai di perbaiki. Salah satu per shockbreaker depan patah. Tak ada pilihan lain selain diganti dengan yang baru. Sementara jam segini bengkel resmi sudah pada tutup. “Motor mu tidak bisa selesai ini. Kalau mau yang imitasi sih masih bisa saya carikan di bengkel sekitar sini. Kalau tidak mau pakai yang imitasi, berarti harus nunggu besok. Mudah-mudahan aja ada bengkel resmi yang buka,” saran Tanjung kepada saya terkait permasalah motor.

Meski demikian, saya masih saja tidak mau mengganti spare parts motor dengan yang imitasi. Saya pun memutuskan untuk menunggu hingga keesokan harinya. Pagi menjelang. Saya tersadar sekitar pukul 09.00 pagi. Bengkel masih tertutup. Tak ada satu pun orang yang terlihat di bengkel. Motor yang terparkir di depan pun tak ada.

Siang itu, Tanjung yang merupakan pemilik bengkel itu pun keluar. Saya pun langsung menanyakan beberapa hal terkait perbaikan motor. Sampai akhirnya, kami pun keluar untuk mencari bengkel resmi yang buka dan menanyakan harga spare part. Dari dua bengkel resmi yang kami datangi, tak satupun yang memiliki spare parts.

“Sebenarnya kalau sparepartnya tidak ada yang dijual terpisah. Dia langsung satu paket. Satu itu harganya sekitar Rp 300 ribuan. Spare parts yang ini memang jarang rusak makanya tidak dijual satu paket,” ujar salah satu teknisi di salah satu bengkel resmi yang saya temui.

Tak ada pilihan lain, spare part imitasi menjadi satu-satunya solusi. Kami akhirnya menuju sebuah toko untuk membelinya. Tak butuh waktu yang lama untuk memasang spare parts. Begitu selesai di pasang saya pun mencoba menggunakan motor. Namun rasanya sedikit berbeda. Mungkin ini pengaruh ban depan yang baru saya ganti.

“Terus gimana rul? Kamu mau ikut ngak ke Sinjai. Saya rencana berangkat sore ini. Lagian kamu belum pernah kan ke Sinjai?,” pertanyaan dan sekaligus ajakan itu kembali terlontar. Saya pun akhirnya mengiyakan. “Ok. Saya ikut tapi saya harus pulang dulu,” jawaban itu tiba-tiba keluar begitu saja.

Sore itu, saya pun memutuskan untuk kembali ke rumah sekalian mencoba motor yang baru selesai di service. Kendaraan cukup padat sore itu. Sementara mendung masih setia menghiasi langit Makassar. Beberapa hari terakhir ini cuaca di Makassar kurang bersahabat. Hujan kerap menghampiri kota ini. Mantel atau jas hujan menjadi barang wajib yang harus selalu dibawa.

Di tengah perjalanan, hujan pun turun. Tak begitu lebat. Namun sekujur tubuh basah akibat perjalanan panjang dan macet yang menghapiri di tengah perjalanan. Memutuskan berhenti untuk memakai jas hujan rasanya tak penting lagi. Sia-sia saja. Semuanya sudah terlambat. Di tengah padatnya kendaraan bagaimana mungkin memilih berhenti. Sementara posisi berada ditengah-tengah. Alhasil, sampai di rumah semuanya basah.

Sampai di rumah, saya pun langsung mandi dan menyiapkan barang yang akan saya bawa nantinya. Sebelum kembali ke bengkel, saya pun kembali memastikan barang bawaan yang ada di dalam tas. Ini untuk memastikan saja agar tidak ada barang yang tertinggal. Sebenarnya rencana untuk ikut ke Sinjai ini terlalu mendadak. Namun karena rasa penasaran yang tinggi membuat saya tidak bisa melewatkan kesempatan langka ini.

Tak masalah pergi tanpa perencanaan yang terpenting kan perjalanannya. Saya selalu percaya, setiap perjalanan itu selalu menyajikan sesuatu yang berbeda. Tak perduli kau pergi dengan orang yang sama. Suasana yang kau dapatkan tetaplah berbeda. Yang penting bersifat terbuka dan mau menikmatinya. Tunggu saya di Sinjai !!!

Baca Juga :

Advertisements

Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s